Monthly Archives: Januari 2015

HANYA YANG DITUNJUK YANG BOLEH TETAP KURTILAS

Dapodik sudah diseting untuk diisi oleh sekolah sesuai kurikulum yang dijalankan.Perlu dicermati semua anggota Asosiasi PGSD

IMG_5287

SOAL UN 2015 MASIH PILIHAN GANDA

Berikut dilampirkan info dari laman kementerian pendidikan terkait berita dimaksud

IMG_5286

PERUBAHAN KEBIJAKAN UN

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan mengumumkan kebijakan perubahan ujian nasional (UN) di hadapan peserta Konferensi Kerja Nasional (Kongkernas) II Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (24/1/2015). Dalam kesempatan itu, Mendikbud mengingatkan kembali bahwa tujuan UN adalah untuk melakukan penilaian atas standar kompetensi lulusan. Oleh karena itu, ada beberapa kebijakan UN yang diubah.

“Yang kita ubah adalah UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan siswa dari sebuah satuan pendidikan. Seorang peserta didik dinilai oleh sekolah. Sekolah yang memutuskan dan bila dinyatakan lulus, siswa menerima sertifikat tamat belajar. Kemudian, negara menyelenggarakan ujian yang hasilnya menunjukkan posisi siswa dibandingkan dengan standar-standar yang ada,” ungkap Mendikbud.
Kebijakan UN kedua adalah siswa yang merasa nilainya kurang, dapat mengulang ujian yang sama tahun depan. Mendikbud menjelaskan, untuk dapat mengulang ujian dengan baik, tentu siswa harus belajar. Pihaknya ingin menggeser bahwa bukan semata-mata sebagai hakim, tetapi ujian sebagai sebuah proses pembelajaran. Ujian bukan sesuatu yang mengerikan dan menakutkan, tapi sesuatu yang memang ingin diraih.
Mendikbud juga mengatakan, melalui kebijakan tersebut, pihaknya ingin mengembalikan integritas para komunitas pendidikan. Diakuinya bahwa selama ini UN menjadikan kecurangan bersifat jamak. “Bahkan guru berada dalam posisi terjepit. Perintahnya lulus, namun situasinya berbeda. Ini harus kita ubah,” katanya.
Menurut mantan rektor Universitas Paramadina ini, UN harus digunakan untuk mengembangkan potensi anak dengan baik. Pihaknya ingin konsep yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, diterapkan. Dalam buah pikirannya, Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai sebuah kegembiraan yang menyenangkan.
“Istilah beliau adalah taman. Kita berharap konsep taman ini bisa diterapkan kembali di sekolah-sekolah kita di seluruh Indonesia. Anak ingin ke sekolah. Anak ingin tidak pulang dari sekolah. Kenapa? Karena di sekolahnya merasa senang, nyaman, menyenangkan,” ungkap Mendikbud seraya menambahkan bahwa tanggung jawab membuat sekolah menyenangkan itu ada pada para pendidik dan birokrasi pendidikan. (sumber: portal kemdikbud)

PPG SM3T SEBAGAI SYARAT CPNS

Tahun 2015 mendatang, bagi yang ingin mendaftar menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tidaklah mudah. Kemendikbud akan menjalankan Program Pendidikan Profesi Guru Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (PPG-SM3T). PPG-SM3T sendiri akan menjadi salah satu persyaratan bagi para sarjana pendidikan yang ingin melamar menjadi PNS pada 2016. Jadi, tidaklah cukup hanya mempunyai gelar sarjana pendidikan (S Pd.), namun wajib pula bergelar guru profesi (Gr.).

Tahun 2015, CPNS Wajib Menjalankan PPG-SM3T – uny.ac.idHal ini dilakukan karena kelangkaan guru di daerah terpencil yang disebabkan oleh penempatan tenaga guru yang tidak merata. Menurut Retno Listyarti, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), CPNS seharusnya ditempatkan di daerah kekurangan guru dahulu. Bila CPNS tidak mau ditempatkan di tempat terpencil, maka ia tidak dapat diangkat menjadi PNS.

PPG-SM3T sendiri merupakan bagian dari program Maju Bersama Mencerdaskan Bangsa (MBMI) yang bertujuan mempercepat pembangunan pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Selain itu, tujuan dari program ini adalah untuk membangun mental guru yang memiliki wawasan yang luas. Dalam mengikuti program tersebut, para sarjana pendidikan yang baru lulus ditugaskan di daerah terpencil yang sudah ditentukan selama 6 – 12 bulan.

Daerah yang biasanya menjadi sasaran PPG-SM3T seperti Nias, NTT, NTB, Papua, dan Mentawai. Lokasi tersebut juga memiliki fasilitas yang terbatas, seperti tidak adanya listrik, menyebrangi sungai tanpa jembatan, dan tantangan lainnya.

Namun walaupun tidak mudah, peminat program ini dari 3 tahun uji coba mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2011, ada sekitar 2.500 peserta yang mendaftar. Kemudian tahun 2012 terdapat 2.700 peserta, dan tahun 2013 terdapat 3.000 peserta. Hal ini membuktikan bahwa PPG-SM3T memiliki keunggulan bagi para calon pengajar.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)